KabarJW – Adiana Zulfia, anak kelahiran 2017 dari Gampong Lheu Simpang,
Kecamatan Jeunieb, Bireuen, merupakan seorang penyandang disabilitas autis sejak usia lima tahun, memerlukan perhatian dan perawatan khusus.
Salah satu tantangan besar dihadapi Adiana adalah
kesulitan dalam mengenali, dan memenuhi kebutuhan dasarnya, seperti makan, tanpa
bantuan orang lain.
Iryani, ibu dari Adiana, berbagi kisah tentang
keseharian putrinya.
“Kadang pintu pagar lupa ditutup, dia akan berjalan
terus tanpa tujuan, sambil menyapa dengan bahasanya siapa saja yang ditemuinya
di jalan. Lalu, dia tidak tahu lagi arah pulang,” Ungkap Iryani, menceritakan
tantangan yang harus dihadapi keluarga mereka, saat diwawancarai oleh KabarJW
pada Senin, 17 Maret 2025.
Meski suaminya, Muhammad, berprofesi sebagai nelayan
dengan penghasilan yang tidak menentu, mereka berdua tetap berusaha memberikan
yang terbaik untuk Adiana, termasuk membawanya ke berbagai tempat untuk
mendapatkan pengobatan, baik secara tradisional maupun terapi.
Namun, meskipun sudah berusaha maksimal, belum menunjukkan perubahan signifikan.
Di rumah sakit, Adiana sudah sangat dikenal karena
sering menjalani pengobatan rutin. Bahkan, pihak rumah sakit menyarankan agar
mereka memanfaatkan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS untuk
membantu meringankan biaya pengobatan yang terus meningkat.
Namun, perjuangan keluarga ini tidak berhenti di situ.
Mereka juga mencoba mendaftarkan Adiana ke Sekolah Luar Biasa (SLB) agar
mendapatkan pendidikan sesuai dengan kondisinya. Namun, sebelum jadwal
masuk sekolah dimulai, masalah baru muncul.
“Selang beberapa hari sebelum jadwal masuk sekolah
dimulai, kedua kakinya lemah lunglai hingga tidak bisa berjalan lagi. Kami rasa
Adiana belum siap berinteraksi di luar, apalagi jauh dari kedua orangtuanya,”
kenang Iryani dengan raut wajah yang menunjukkan keprihatinan mendalam.
Kejadian tersebut membuat mereka terpaksa membatalkan
rencana untuk menyekolahkan Adiana, dan kembali berpikir panjang tentang
langkah selanjutnya.
Keluarga Adiana, termasuk ibu dan ayahnya, juga
terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH). Pada tahun lalu, dalam
pertemuan di Meunasah dengan pendamping PKH, Iryani mengungkapkan bahwa mereka
dijanjikan akan dikunjungi untuk mengidentifikasi kebutuhan lebih lanjut.
“Kami sempat diberitahukan bahwa kami akan dikunjungi
untuk membantu mengidentifikasi kebutuhannya, dan laporan tersebut akan
diteruskan ke tingkat yang lebih tinggi,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, Mutia Fajar, Koordinator Kecamatan
(Korcam) PKH Jeunieb, menjelaskan bahwa Fahmi, petugas pendamping PKH Gampong
Lheu Simpang, telah mendatangi rumah Adiana secara langsung.
“Datanya sudah kami masukkan ke dalam database khusus
PKH disabilitas untuk kecamatan kami, yang mencakup 43 gampong,” terang Mutia,
menambahkan bahwa mereka berkomitmen untuk memberikan perhatian khusus kepada
keluarga Adiana.
Keuchik Gampong Lheu Simpang, Teuku Dahlan, juga berharap agar dinas terkait dapat memfasilitasi kebutuhan warganya, terutama terkait dengan data masyarakat disabilitas.
Ia menekankan pentingnya pemenuhan
hak dan kebutuhan dasar bagi penyandang disabilitas.
“Data masyarakat disabilitas harus tetap diprioritaskan dalam usulan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Kami juga menyarankan agar pendamping PKH dapat berkonsultasi dengan saya jika menemui kendala di lapangan,” pungkas Teuku Dahlan, menekankan pentingnya kolaborasi antar pihak untuk membantu keluarga yang membutuhkan.
[Afrizal/ Jurnalis Warga]
0 Komentar